, ,

Pernyataan Akademik IAIN Manado Terkait Rencana Pemindahan Makam Kyai Modjo dan Imam Bonjol

oleh -1002 Dilihat

Manado, Sulawesi Utara — Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado menyatakan sikap akademik mereka atas wacana pemindahan makam dua tokoh nasional, Kyai Modjo dan Tuanku Imam Bonjol, yang selama ini berada di wilayah Sulawesi Utara. Pernyataan ini disampaikan secara resmi sebagai bentuk tanggung jawab akademik terhadap sejarah, budaya, serta nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat.

Dalam pernyataan tersebut, IAIN Manado menyampaikan keprihatinan dan kehati-hatian terhadap wacana pemindahan makam para pahlawan yang memiliki keterikatan kuat dengan sejarah perjuangan umat dan bangsa.

Nilai Historis dan Spiritualitas

Rektor IAIN Manado, Dr. H. Zainuddin Suma, M.Ag, menegaskan bahwa keberadaan makam Kyai Modjo dan Imam Bonjol di Tanah Minahasa bukan semata sebagai pusara tokoh, tetapi juga sebagai situs sejarah yang memiliki nilai spiritual, edukatif, dan simbolik bagi rekonsiliasi kebangsaan.

“Pemindahan makam tidak hanya soal fisik, tetapi menyentuh aspek simbolik yang berkaitan dengan jejak sejarah perjuangan dan interaksi sosial antar budaya dan agama,” ujar Zainuddin.

IAIN Manado
IAIN Manado

Baca juga: BRI Property Expo 2025 Hadir di Manado, Beri Bunga Spesial 1,5 Persen, Bebas Biaya Admin dan Provisi

Pertimbangan Sosial-Budaya dan Teologis

IAIN Manado dalam sikap akademiknya menyoroti bahwa Kyai Modjo dan Tuanku Imam Bonjol bukan hanya simbol perlawanan terhadap kolonialisme, tapi juga pelopor dakwah Islam yang hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat lokal Minahasa di masa pengasingan mereka.

Oleh karena itu, IAIN menilai perlu adanya kajian multidisipliner dan dialog lintas pihak, termasuk dengan masyarakat lokal, ahli sejarah, tokoh adat, dan keluarga besar keturunan tokoh, sebelum mengambil langkah pemindahan makam.

Pesan Persatuan dan Keutuhan Bangsa

IAIN Manado juga menekankan bahwa situs makam ini sudah menjadi bagian dari jalinan identitas kolektif dan harmoni sosial di Sulawesi Utara, dan pemindahan tanpa pendekatan sosiologis dan kultural yang tepat justru berpotensi mengganggu narasi kebangsaan yang selama ini terjaga.

“Kami percaya, menjaga makam para tokoh di tempat mereka wafat adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah bangsa serta penguatan semangat kebinekaan,” tambah Rektor IAIN.

Seruan untuk Dialog Terbuka dan Kajian Ilmiah

Sebagai institusi akademik, IAINManado mendorong pemerintah dan pihak terkait untuk mengedepankan riset ilmiah, diskusi publik, dan konsultasi budaya sebelum mengambil keputusan besar terkait situs sejarah seperti makam Kyai Modjo dan Imam Bonjol.

Kesimpulan:
Pernyataan IAIN Manado menunjukkan bahwa dalam menyikapi warisan sejarah, dibutuhkan kepekaan budaya dan intelektual. Lebih dari sekadar lokasi, makam pahlawan adalah simbol warisan nilai, perjuangan, dan jembatan antar generasi. Oleh karena itu, keputusan menyangkut pemindahannya tidak bisa dilakukan secara sepihak tanpa proses ilmiah, sosial, dan spiritual yang mendalam.

Shoppe Mall

No More Posts Available.

No more pages to load.